Tambang Pasir Besi Merusak Lingkungan

Cipatujah– Penambangan pasir besi di sepanjang pantai Tasela hingga saat ini terus berlangsung, salah satuya dilakukan oleh PT Jassmas di pantai Pamayangsari Desa Cikawungading Kecamatan Cipatujah. Namun aktivitas tersebut dinilai telah banyak merugikan lingkungan hidup, antara lain karena reklamasi tidak dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Disisi lain, pemerintah daerah melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Distamen) Kabupaten Tasikmalaya dinilai tidak tanggap terhadap permasalahan tersebut.

Demikian dikemukakan Asep Soni, aktivis Elpamas, melalui ponselnya kemarin. Elpamas akan mendatangi kantor Bupati Tasimalaya di Singaparna untuk menyampaikan permasalahan tersebut.

“Kita demo langsung ke Singaparna. Soalnya waktu kita berdemo di kantor Distamben kemarin, ternyata tidak responsif, alias tak mau mendengar,”katanya.

Dalam demo hari ini katanya, elpamas akan mengerahkan sekitar 300 sampai 400 orang dengan menggunakan sekitar 9 mobil. Mereka terdiri atas warga sekitar pantai Pamayangsari yang didampingi aktivis elpamas. Isi tuntutannya adalah meminta Pemerintah Daerah segera menertibkan pertambangan di sekitar pantai Tasela.

Ketika ditanya radar, tentang siapakah yang paling bertanggung-jawab terhadap kerusakan lingkungan hidup itu, Asep menuding Bupati Tasikmalaya sebagai orang yang paling bertanggung-jawab. Katanya, penambangan PT Jassmas saat ini masih mengantongi ijin tambang dari Bupati Tasikmalaya, Tatang FH. Seharusnya kata dia, penambangan tersebut diawasi agar sesuai prosedur yang berlaku, bukan dibiarkan begitu saja.

“Yang pasti, reklamasi tersebut seharusnya berdasarkan ketentuan yakni setiap 50 meter persegi langsung direklamasi. Kalau DPR, kami yakin akan tanggap, soalnya komisi I sudah menangggapi,”katanya.

Menanggapi hal itu, Supriatna ketua BPD Cikukulu Kecamatan Karangnunggal beranggapan bahwa penambangan pasir besi oleh PT Jassmas sudah legal. Dia sendiri lebih menyoroti penambangan pasir besi di sekitar pantai Desa Ciheras kecamatan Cipatujah, karena aktivitas tersebut ilegal. Hal senada juga diungkapkan oleh ketua HNSI DPC Tasikmalaya, Dedi Mulyadi.

“Kalau di Ciheras itu jelas ilegal, tetapi saya heran kok dibiarkan saja,”ujar Dedi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Jagung Andalan Karangnunggal 38 Ha Lahan Siap Panen

Karangnunggal- Kecamatan Karangnunggal saat ini tengah bersiap-siap menjadi daerah dengan komoditas andalan jagung. Buktinya, sekitar 38 Ha lahannya, saat ini dalam kondisi siap panen. Masing-masing tersebar di sekitar 6 desa, meliputi Desa Ciawi, Pasir Kujang, Sarimukti, Cidadap, Cikupa, dan desa Karangnunggal.

“Kami tertarik mengembangkan jagung karena permintaannya yang cukup tinggi. Kebetulan kami juga punya program ini,”ujar Sutarjo, kepala BPP Karangnunggal saat meninjau lokasi kebun jagung di desa Ciawi, kemarin.

Dia menerangkan, jagung terutama dibutuhkan sebagai pasokan pakan untuk ayam petelur. Di wialayah kecamatan Karangnunggal sendiri katanya, saat ini ada sekitar 20.000 ekor ayam petelur yang sangat tergantung dengan jagung.

“Bayangkan, kalau setiap ekornya saja, tiap hari butuh sekitar 0,5 kg jagung. Berarti setiap hari butuh sekitar 10 ton pasokan jagung. Kita masih kekurangan,”katanya.

Untuk mencukupi pasokan jagung katanya, para peternak hingga kini masih sangat tergantung pasokan dari daerah Jawa. Soalnya, hasil panen dari areal perkebunan saat ini hanya mampu mengasilkan beberapa ton saja untuk tiap luas areal satu hektar. Itupun hanya dipanen untuk setiap tiga bulan satu kali.

“Kebutuhan kita masih sangat besar. Jadi peluang agribisnis jagung masih sangat terbuka sangat lebar,”timpal H. Karyo diamini H Iwan, masing-masing ketua Kelompok Tani Desa Ciawi dan Ketua Gapoktan Karangnunggal.

Karyo menerangkan, harga jagung di pasaran saat ini cukup tinggi. Tiap kilogram kering di pasaran dijual seharga Rp 2.400. Sementara, petani jagung hingga kini masih jarang.

“Untuk menumbuhkan minat kita bina melalui kelonmpok tani. Terutama biar cara penanaman, pemupukan, dan pemasarannya agar terbantu,”katanya.(uym)

Foto: Lahan jagung di desa caiwi ada sekitar 12 ha

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Goa Kafir Vs Goa Safarwadi, Symbol Perseteruan Abadi

Di Pamijahan, selama ini dikenal 2 buah goa yang kerap dikunjungi. Yakni, Goa Safarwadi dan Goa Kafir. Nama keduanya pun diberikan langsung oleh Kanjeng Syech Abdul Muhyi, sebagai symbol perseteruan abadi antara manusia Beriman dengan Iblis.

Menurut KH Endang Ajidin, Kasepuhan Pamijahan, Goa Kafir sebetulnya sudah sejak lama dikenal masyarakat. Namun, hanya sedikit orang yang pernah melihat langsung lokasi tersebut. Kemunginan besar, hal itu akibat larangan langsung yang disampaikan Kanjeng Syech Abdul Muhyi kepada seluruh pengikut dan keturunannya agar jangan pernah mendekati lokasi tersebut.

“Sebenarnya, Goa Safarwadi dan Goa Kafir itu simbol. Bahwa dalam kehidupan ini hanya ada 2 jalan. Yakni jalan yang Haq dan jalan yang Batil, antara yang lurus dengan yang sesat. Nah kita mau pilih yang mana?”katanya saat ditemui di kediamannya, kemarin.

Dia menjelaskan, penamaan Goa Kafir juga menunjukkan sesuatu yang menjijikkan untuk didekati. Artinya perilaku-perilaku kekafiran jangan sampai dilakukan oleh seorang mukmin yang benar. Herannya kata dia, masih banyak saja orang yang malah berusaha mendekatinya hanya untuk mencapai kekayaan duniawi dengan cara menjual keimanannya.

Saat ini katanya, kuncen yang menguasai goa Kafir justru orang-orang dari luar daerah. Tak jarang, pesugihan juga menjadi semacam praktek penipuan dengan iming-iming penggandaan uang dan sejenisnya. Disisi lain, ada juga segelintir orang setempat yang telah terjerumus dalam praktek tersebut.

“Kami mendukung kalau seandainya ada rencana penataan goa tersebut. Ketimbang jadi tempat pemujaan, lebih baik agar ditata, dan diterangi listrik. Kalau sudah diterangi, biasanya jin-nya juga nanti minggat dengan sendirinya,”katanya.

Di tempat terpisah, Ep (25), salah seorang perempuan warga setempat yang tak jauh dari goa kafir mengaku sering melihat orang yang datang ke lokasi tersebut untuk melakukan pesugihan. Dia mengaku, kakaknya sendiri sebagai salah seorang kuncennya.

“Barusan saja ada orang Karangnuggal yang baru pulang dari dalam. Biasanya banyak juga orang luar seperti dari Tangerang dan Sumatera, dan luar Jawa,”katanya.

Dia juga menjelaskan, para pengunjungnya datang hampir setiap hari, nyaris tidak mengenal musim. Sehingga katanya, pada bulan apapun selalu ada saja orang yang datang, kendati tidak pernah membludak.  Bagi sebagian orang kedatangan mereka memberi keuntungan misalnya bagi para penyedia jasa pengantar, dan penjual kebutuhan pasugihan.

Foto: kh Endang Ajidin

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Pesisir Tasela Harapkan Cabup Visioner

Cipatujah-Masyarakat pesisir pantai Tasela mengharapkan, Pemilukada mendatang bisa menghasilkan pasangan Bupati yang visioner (memiliki pandangan yang jauh kedepan). Antara lain menyangkut pengembangan sumber daya kelautan sekitar pantai Tasela yang sangat melimpah. Jika dikembangkan dengan serius, sektor ini diyakini mampu menyumbang PAD dalam jumlah yang fantastis. Demikian diungkapkan Dedi Mulyadi Ketua Umum HNSI DPC Tasikmalaya, kemarin.

“Bupati yang diharapkan kaum pesisir sebetulnya Bupati yang jujur dan bersih, dan berpihak pada rakyat. Juga dia harus berani menggali potensi kelautan yang sampai sekarang ekspolitasi SD Kelautan ini, masih dibawah kisaran 10 persen dari total potensi tersebut. Sisanya masih utuh. Ini akibat masih minimnya sarana dan alat tangkapnya,”katanya.

Dedi juga berani mengklaim bahwa organisasi HNSI merupakan satu-satunya organisasi profesi yang secara serius memikirkan PAD kabupaten Tasikmalaya. Sebagai gambaran sederhana, omzet nelayan Pamayangsari tiap harinya mampu menhasilkan uang sekitar 40 hingga 60 juta/hari. Penghasilan tersebut katanya, belum termasuk nelayan-nelayan lain di pelabuhan tradisional seperti pantai Cihanura Ciheras, Cimanuk, Pamoekan, Sidangkerta, dan Cipatujah.

Sementara, organisasi HNSI sendiri saat memiliki tak kurang dari sekitar 23.000 anggota. Meliputi nelayan tangkap, nelayan prasarana (bakul), ampar, nelayan ban, nelayan abur, nelayan budidaya, nelayan muara, dan sebagainya. Mereka tersebar di sepanjang 54,2 km garis pantai Tasela, meliputi 3 wilayah kecamatan dengan 11 desa pesisir.

“Masalah peningkatan PAD harus menjadi salah satu kebijakan Bupati mendatang. Karena sebetulnya wilayah kita sangat kaya raya, khususnya S Samudera Hindia yang teramat luas ini yang perlu kita gali. Kita kedepan bisa jaya dari sektor perikanan laut,”katanya. (kanjengyusuf)

Foto: Dedi Mulyadi Ketua HNSI DPC Tasikmalaya (kiri) dan Didi S (kanan) Ketua Rukun Nelayan (RN) Pamayangsari

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar